MENJAGA DANAU KASKADE MAHAKAM

Resensi

     Danau tidak pernah berteriak ketika ia menyelamatkan kita. Ia hanya diam, melebar saat hujan datang, dan perlahan menyusut ketika kemarau panjang tiba. Begitulah Danau Kaskade Mahakam bekerja tanpa suara, tanpa sorotan, tetapi menentukan hidup dan mati ribuan orang di sepanjang Sungai Mahakam.

     Di Kalimantan Timur, air bukan sekadar unsur alam. Ia adalah penentu ritme kehidupan. Ia datang dari hujan di hulu, mengalir melalui sungai, berhenti sejenak di danau-danau luas, lalu melanjutkan perjalanan ke hilir. Dalam perjalanan itu, Danau Kaskade Mahakam menjadi tempat air bernafas menurunkan amarah banjir, menyimpan ingatan musim hujan, dan menghidupkan sungai saat kemarau.

     Namun perubahan mulai terasa. Air datang lebih cepat. Surutnya lebih lama. Ikan tidak selalu muncul di tempat yang sama. Gulma air tumbuh rapat, seolah memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang tidak lagi seimbang. Danau masih ada, tetapi rasanya berbeda.

     Buku ini ditulis untuk mendengarkan kembali suara danau suara yang sering terabaikan karena tidak pernah keras. Ia mengajak pembaca berjalan menyusuri Danau Kaskade Mahakam, memahami bagaimana danau paparan banjir bekerja, mengapa danau dangkal justru menyelamatkan, dan bagaimana manusia sadar atau tidak telah membentuk masa depan danau melalui pilihan-pilihan sehari-hari.

     Di halaman-halaman berikut, ilmu pengetahuan bertemu dengan pengalaman lapangan. Data dan konsep berjalan berdampingan dengan cerita nelayan, warga, dan masyarakat yang hidup bersama danau. Mereka bukan sekadar saksi, tetapi penjaga yang telah lama membaca tanda-tanda air.

     Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang menjaga danau. Ia tentang menjaga hubungan kita dengan air. Karena selama Danau Kaskade Mahakam masih diberi ruang untuk bekerja sesuai kodratnya, ia akan terus melakukan tugas yang sama seperti selama ratusan tahun: menjaga kehidupan, meski kita jarang menyadarinya.



    • Detail :

– Judul Buku:

MENJAGA DANAU KASKADE MAHAKAM

– Penulis:

Mislan, Yaskinul Anwar, Lariman, Sus Trimurti, Medi Hendra, Eko Haryadi, Geo P Perdana, Hardiansyah, Titi N. Harahap, Sopian Noor.
 

– Editor:

Wisynu Aji Indro Asmoro

Scroll to Top