Resensi
Dalam perjalanan waktu, hubungan manusia dengan sungai berubah. Dulu, sungai adalah ruang hidup. Ia menjadi tempat bertemu, bekerja, dan berbagi cerita. Kini, di banyak kota, sungai lebih sering dipandang sebagai ruang belakang—tempat air dialirkan, sampah dibuang, dan masalah disingkirkan. Sungai baru dianggap penting ketika ia meluap dan mengganggu kenyamanan.
Banjir kemudian dianggap musuh. Hujan disalahkan. Sungai dituding. Padahal, sungai tidak pernah memilih untuk meluap. Ia hanya menjalankan perannya dalam sistem alam. Ketika ruangnya menyempit, ketika beban air dan limbah melebihi kemampuannya, sungai merespons dengan cara yang paling jujur: air naik dan mencari tempatnya sendiri. Dalam diam, sungai sedang berbicara.
Karang Mumus adalah bagian dari sistem yang lebih besar, terhubung dengan Mahakam dan seluruh wilayah tangkapannya. Apa yang terjadi di hulu akan terasa di hilir. Apa yang dibangun di darat akan berakhir di air. Sungai tidak mengenal batas administrasi atau kepentingan sektoral. Ia hanya mengenal aliran dan keseimbangan. Ketika keseimbangan itu terganggu, sungai menunjukkan akibatnya.
Buku ini lahir dari kesadaran bahwa menjaga sungai tidak cukup dengan alat berat dan beton. Sungai tidak bisa disembuhkan hanya dengan dikeruk atau diluruskan. Ia perlu dipahami. Ia perlu dihormati sebagai bagian dari sistem hidup yang lebih luas. Menjaga sungai berarti menjaga cara kita membangun kota, cara kita menggunakan ruang, dan cara kita memandang alam.
“Menjaga Karang Mumus” tidak ditulis untuk menyalahkan siapa pun. Buku ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, melihat sungai dengan lebih jernih, dan bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita memberi ruang yang cukup bagi air untuk hidup bersama kita? Karang Mumus dipilih bukan karena ia paling buruk, tetapi karena ia mewakili banyak sungai kecil di kota-kota kita yang mengalami nasib serupa.
Sungai kecil sering kali menanggung masalah besar. Namun di sanalah pelajaran penting tersembunyi. Jika kita mampu merawat sungai kecil dengan baik, kita sedang belajar merawat sistem yang lebih besar. Jika kita mampu mendengarkan pesan sungai, kita sedang belajar memahami batas-batas pembangunan.
Buku ini mengajak pembaca menelusuri Karang Mumus sebagai cermin kehidupan kota. Di dalamnya ada cerita tentang air, banjir, pencemaran, manusia, dan harapan. Semua disampaikan dengan keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin, selama ada kemauan untuk belajar dan berbenah.
Detail :
– Judul Buku:
MENJAGA KARANG MUMUS
– Penulis:
– Editor:
Wisynu Aji Indro Asmoro