Resensi
Buku “Sekolah Itu Bukan Pabrik Sepatu” karya Djoko Iriandono merupakan refleksi mendalam sekaligus kritik konstruktif terhadap wajah pendidikan modern yang cenderung terjebak dalam logika industrialisasi. Melalui metafora “pabrik sepatu”, penulis menggambarkan bagaimana sekolah sering kali memperlakukan siswa sebagai produk yang harus seragam diukur, distandarkan, dan dinilai dengan ukuran yang sama tanpa memperhatikan keunikan setiap individu. Buku ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar menghasilkan capaian akademik. Lebih jauh, buku ini menekankan bahwa setiap anak adalah pribadi unik dengan potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh menyeragamkan, melainkan harus memberi ruang bagi keberagaman, kreativitas, dan perkembangan alami setiap individu. Guru diposisikan bukan sebagai operator kurikulum, melainkan sebagai penuntun jiwa yang membimbing dengan empati, keteladanan, dan kasih. Penulis juga menawarkan perspektif alternatif tentang pendidikan yang humanis: sekolah sebagai taman kehidupan, bukan pabrik hasil. Dalam konsep ini, proses belajar harus bermakna, kontekstual, dan membahagiakan. Kurikulum perlu fleksibel, penilaian harus membangun, dan hubungan antara guru–murid harus dilandasi rasa saling menghargai. Sekolah harus menjadi ruang yang menjaga nurani, menumbuhkan kesadaran, dan membentuk manusia utuh bukan sekadar lulusan yang siap kerja, tetapi individu yang mampu hidup dengan makna.
Detail :
– Judul Buku:
Sekolah Itu Bukan Pabrik Sepatu
– Penulis:
Djoko Iriandono, S.E., M.A.
– Editor:
Wisynu Aji Indro Asmoro, M.H.